Rabu, 23 April 2014

and now ....

Angin tak Bersuara

senyap yang berabad

beribu tanya diri

menjawab sekuat diri

alam tak terjemahkan secara pasti

mencari beribu arti

hitam putih merayu namun tak setia

mata realita yang bersaksi melonggarkan dan mengencangkan keyakinan sesuka hati

para penafsir hadir atas dasar kepentingan sendiri

ketaktulusankah penyembuhnya?

betapa malangnya nasib fikir

betapa malangnya nasib mulut

mata mulai sayu

namun enggan meneteskan air mata

tangan tak ber-ruh pada jiwa yang sama

bgitupun kaki

wahai para penafsir, apa yang hendak kau perbuat setelah kau membuka mata ?

ah sia - sia saja mengandalkan mereka

memang, ini bukanlah melati layu yang tetap beraroma

melainkan perjalanan menuju perantauan

genggamlah kedua tangan manusia yang enggan digenggam, jujurlah dengan ketulusan

sabar , sabar ...

cibiran itu pasti

kedua telapak tangan adalah benteng kesaksian
sebelum, ketika dan setelah mata tertutup oleh keduanya