Angin tak Bersuara
senyap yang berabad
beribu tanya diri
menjawab sekuat diri
alam tak terjemahkan secara pasti
mencari beribu arti
hitam putih merayu namun tak setia
mata realita yang bersaksi melonggarkan dan mengencangkan keyakinan sesuka hati
para penafsir hadir atas dasar kepentingan sendiri
ketaktulusankah penyembuhnya?
betapa malangnya nasib fikir
betapa malangnya nasib mulut
mata mulai sayu
namun enggan meneteskan air mata
tangan tak ber-ruh pada jiwa yang sama
bgitupun kaki
wahai para penafsir, apa yang hendak kau perbuat setelah kau membuka mata ?
ah sia - sia saja mengandalkan mereka
memang, ini bukanlah melati layu yang tetap beraroma
melainkan perjalanan menuju perantauan
genggamlah kedua tangan manusia yang enggan digenggam, jujurlah dengan ketulusan
sabar , sabar ...
cibiran itu pasti
kedua telapak tangan adalah benteng kesaksian
sebelum, ketika dan setelah mata tertutup oleh keduanya